Kongres PSSI 2011 Ricuh, Sanksi FIFA Menunggu

Kongres PSSI 2011 Ricuh, Sanksi FIFA Menunggu – Apa yang di khawatirkan para pecinta bola akhirnya terjadi juga, Kongres PSSI 2011 yang di laksanakan 20 Mei 2011 kemarin di Hotel Sultan, Jakarta dan di hadiri 18 calon ketua umum, 16 calon wakil ketua umum, dan 51 calon eksekutif komite ini berakhir dengan ricuh dan tidak dapat memutuskan apa apa.

Banyak orang yang menilai kelompok 78 meruapakan penyebab kisruhnya Kongres PSSI 2011 kemarin. Keras kepalanya mereka untuk tetap mendukung George Toisutta dan Arifin Panigoro membuat tidak ada titik pertemuan di dalam Kongres yang di monitor langsung oleh perwakilan FIFA, Thierry Regennas dan AFC.


Kericuhan di dalam Kongres PSSI 2011 mulai sekitar pukul 16.00. Berikut kronologi kericuhannya:

·      16.00: Salah satu pemilik suara menginginkan agar petugas keamanan panitia dan para pihak-pihak yang tidak memiliki hak suara di dalam ruangan kongres untuk meninggalkan ruangan. (Agum akhirnya menyuruh para petugas keamanan untuk ke belakang dan untuk tidak melakukan apa apa)
·      Beberapa pemilik suara menginginkan adanya penjelasan dari Komite Banding Pemilihan terkait dengan putusan banding yang mereka buat pada 12 Mei silam. (Agum: Hal tersebut tidak dalam agenda Kongres)
·        Beberapa peserta kongres mendesak agar FIFA memberikan alasan penganuliran George Toisutta dan Arifin Panigoro (Agum: Mempersilahkan perwakilan FIFA, Thierry Regennas untuk memberikan penjelasan, walaupun sebenarnya bukan kapasitas dia untuk menjelaskannya, sebab dia hanya memonitor).
·    Kelompok 78 itu tak puas dan tetap memaksakan diadakannya agenda mendengar penjelasan dari Komite Banding Pemilihan. Interupsi yang silih berganti dan dengan topik yang sama membuat Agum Gumelar tidak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan.
·        Pukul 19.00, Kelompok 78 masih ingin penjelasan Komisi Banding.
·    Pukul 20.00, Agum menawarkan voting secara tertutup. Namun di tolak karena ingin voting di lakukan terbuka.
·        Setelah Agum menyutujui voting secara terbuka, kelompok tersebut justru meminta dilakukan voting mengganti pemimpin kongres, yakni Komite Normalisasi.
·        Kongres semakin ricuh, interupsi di lakukan secara tidak teratur dan disampaikan dengan nada keras setengah berteriak atau berteriak. Suasana kongres tak ubahnya seperti arena orasi para pengunjuk rasa jalanan. Mereka tak lagi memedulikan giliran menyampaikan interupsi. Dengan mic ataupun tanpa mic, mereka menyampaikan pendapatnya masing-masing.
·        Pukul 20.45, Agum Gumelar memutuskan untuk menutup kongres karena menilai suasana kongres sudah tidak lagi kondusif dengan mengetuk palu sebanyak tiga kali.

Menunggu Sanksi FIFA ?

Kongres PSSI 2011 yang berlangsung di Jakarta semalam tidak menghasilkan keputusan apapun, hal ini membuat berbagai kalangan mengkhawatirkan adanya sanksi atau pembekuan dari FIFA.

Melihat situasi tersebut, politisi sekaligus calon Ketua Umum PSSI Achsanul Kosasih menilai sikap kelompok 78 dalam menyuarakan aspirasinya terlalu berlebihan.

“Sikap Kelompok pengacau yang ingin menurunkan Agum Gumelar terlalu berlebihan,” ungkap Achsanul kepada wartawan.

Sementara itu menurut Mantan ketua Badan Tim Nasional, Rahim jika federasi sepakbola internasional itu menjatuhkan sanksi, Indonesia tidak bisa ikut semua kompetisi internasional di bawah FIFA yang melibatkan remaja. “Semua tidak bisa, termasuk tim pelajar. Mereka membunuh generasi muda kita,” ujar Rahim yang juga menjadi salah satu calon komite eksekutif [Exco] periode 2011-15.

Tidak hanya itu saja, jika FIFA benar benar menjatuhkan sanksi ke PSSI, Irfan Bachdim dan anggota Timnas U-23 yang telah berlatih ala militer di Pusat Pendidikan Kopassus di pastikan tidak bisa bertanding, suatu kerugian dan masalah yang besar, secara SEA GAMES sekarang ini di selenggarakan di Indonesia. Dan ini juga kiamat untuk persepakbolaan Indonesia.

Bola ada di George Toisutta dan Arifin Panigoro

Kini bola ada di George Toisutta dan Arifin Panigoro, jika keduanya masih keras kepala untuk mengikuti bursa calon Ketum PSSI, maka para pendukungnya yang d kenal dengan Kelompok 78 tentu akan “berjuang sampai titik darah penghabisan”.