Film “Negeri 5 Menara” Akan tayang 2012

Film “Negeri 5 Menara” Akan tayang 2012 – Film Indonesia yang semoga menjadi inspirasi untuk kita semua “Negeri 5 Menara” rencananya akan tayang pada Februari 2012, sedangkan syutingnya kan di mulai Agustus tahu ini.

Film ini berdasarkan novel “Negeri 5 Menara” yang diinspirasi dari pengalaman penulisnya sendiri yaitu yaitu Ahmad Fuadi saat menuntut ilmu di Pondok Madani. Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda yang jauh dari rumah dan berhasil mewujudkan mimpi menggapai jendela dunia. Mereka adalah:

1.      Alif Fikri Chaniago dari Maninjau
2.      Raja Lubis dari Medan
3.      Said Jufri dari Surabaya
4.      Dulmajid dari Sumenep
5.      Atang dari Bandung
6.      Baso Salahuddin dari Gowa

Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kian hari mereka semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk dibawah menara pondok madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara.

Novel Negeri 5 Menara adalah buku mega best seller penerbit Gramedia Pustaka Utama. Buku novel itu dalam waktu 12 bulan telah dicetak sebanyak delapan kali dengan jumlah oplah mencapai 140 ribu eksemplar. Hal tersebut membuat novel “negeri 5 menara” tercatat sebagai rekor baru sebagai buku lokal paling banyak dicetak sepanjang 36 tahun usia penerbit Gramedia. Right “negeri 5 menara” juga telah dibeli oleh PTS Litera, penerbit Malaysia yang akan diterbitkan dalam bahasa Melayu.


Bagaimana dengan filmnya ?

Film Negeri 5 Menara akan mulai syuting Agustus tahun ini dengan dukungan KG Production, Million Pictures. Sebenarnya terdapat 10 produser film yang tertarik untuk menggarap novel Negeri 5 Menara sebagai sebuah film, namun akhirnya KG production yang mendapatkannya.

Rencananya syuting film “Negeri 5 Menara” akan di lakukan ilakukan dalam empat tahap, pertama berlokasi di wilayah Ponorogo dan Pondok Modern Gontor, Jawa Timur, hingga pertengahan Agustus. Kemudian tahap dua di kota Bandung setelah Lebaran. Tahap tiga di Bukittinggi, dan Danau Maninjau, Sumatra Barat dan tahap akhir di London.

Film "Negeri 5 Menara" disutradarai Affandi Abdul Rachman, dengan dukungan tim yang sudah berpengalaman dalam membuat film, mulai dari Eros Eflin, Roy Rolang, hingga Citra Subiyakto.

Berikut daftar pemain yang terlibat dalam film "Negeri 5 Menara"

§       Doni Alamsyah,
§       Andhika Pratama,
§       David Chalik,
§       Inez Tagor,
§       Mario Irwinsyah
§       Ikang Fauzi

Pendatang baru
§       Eriska Rein
§       Merayni Fauziah.

Berikut komentar para tokoh mengenai Negeri 5 Menara

Andy Noya
Kisah inspiratif dengan selipan humor khas pondok. Jarang ada novel yang bercerita tentang apa yang terjadi di balik sebuah pondok yang penuh teka-teki. Buku ini sarat dengan vitamin bagi jiwa kita

BJ Habibie
Novel yang berkisah tentang generasi muda bangsa ini penuh motivasi, bakat, semangat, dan optimisme untuk maju dan tidak kenal menyerah, merupakan pelajaran yang amat berharga bukan saja sebagai karya seni, tetapi juga tentang proses pendidikan dan pembudayaan untuk terciptanya sumberdaya insani yang handal.

Andaikan banyak anak bangsa yang mempunyai kesempatan dan pengalaman seperti mereka, akan beruntunglah bangsa Indonesia dalam mewujudkan masa depannya yang maju dan sejahtera, yang disegani dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Riri Riza, Pembuat Film
Masa remaja  selalu meninggalkan bekas yang kuat, penuh nostalgia.  Ahmad Fuadi mengolah nostalgia menjadi novel yang menyentuh, sekaligus menjadi diskusi kritis sekaligus simpatik tentang pendidikan kehidupan. Negeri Lima Menara adalah kisah enam anak muda berbeda warna menembus pendidikan pesantren menuju dunia,  sebuah kisah yang menggelitik

KH Hasan A. Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor, Ponorogo
Novel ini bercerita bahwa ”pesantren kemasyarakatan” bebas mendidik anak bangsa dalam keislaman dan keilmuan. Alumninya dengan menumpang ”perahu moral” bisa melesat ke seantero bumi Sang Pencipta, untuk bermanfaat, bukan hanya dimanfaatkan. Semoga pembaca cerdas dan jujur menggali nilai-nilai fitri manusiawi darinya. Selamat menikmati.

Kak Seto, Ketua Komnas Perlindungan Anak
Membaca buku “Negeri Lima Menara” karangan Bung Ahmad Fuadi sungguh mengasyikkan. Kita semua diajak untuk berkelana melihat cantiknya dunia dalam mimpi-mimpi indah yang dibalut dengan kerja keras dan semangat juang yang luar biasa! Bahwa mantera sakti “man jadda wajada” akan senantiasa memotivasi setiap anak dan akan melahirkan kesuksesan di masa depan manakala diikuti dengan kreativitas, ketabahan dan kerendahan hati. Saya belajar banyak dari buku ini. Dan buku ini memang layak dibaca oleh siapa pun yang ingin maju dan sukses

Akmal Nasery Basral, jurnalis-novelis
Ahmad Fuadi menggabungkan kejelian observasi seorang reporter dan kekalisan jelajah imajinasi literer dalam Negeri Lima Menara yang inspiratif. Dinamika kehidupan internal pesantren berpadu mulus dengan riuhnya suasana global di jantung peradaban modern yang serba bergegas. Sebuah novel yang membuktikan bahwa tak ada hal yang tak bisa dicapai manusia di dalam hidupnya. Man jadda wajada.

Bill Liddle, profesor ilmu politik, Ohio State University, Columbus Ohio, AS.
Pada masa Orde Baru, jutaan anak santri bermimpi dan berjuang untuk menjadi orang modern yang mampu hidup di mana-mana. Melalui kisah enam teman sekelas di sebuah pondok modern yang terinspirasi kisah nyata, Ahmad Fuadi berhasil menciptakan kembali ciri-ciri khas budaya masa itu, terutama kepercayaannya bahwa kunci sukses pribadi adalah kesungguhan dan keikhlasan. Juga sesuai zamannya, tokoh-tokoh Fuadi sama sekali tidak mempersoalkan absahnya pemerintahan Suharto atau keyakinan mereka sendiri sebagai orang yang beragama. Novel ini perlu dibaca oleh setiap orang, baik Muslim maupun non-Muslim, yang ingin mengerti fondasi budaya kelas menengah zaman Reformasi.

Erbe Sentanu, Penulis Buku Quantum Ikhlas, Pelopor Industri Kesadaran di Indonesia
Demonstrasi yang indah tentang kekuatan ikhlas dan “kesengajaan” prasangka baik kepada Tuhan. Rumus proses belajar yang jitu: yaitu murid ikhlas diajar, guru ikhlas mengajar. Hasilnya secara tidak disangka-sangka, terbuka lebarlah pintu hikmah dan pintu dunia akhirat. Beranilah bermimpi dan berharap karena Tuhan Maha Mendengar. Novel yang sangat saya anjurkan untuk dibaca dan direnungkan

"Ditulis “menggunakan kata” hati, sehingga terasa menyentuh hati. Di tengah semua pergumulan hidup, akhirnya keikhlasan yang putih akan selalu memenangkan dunia dan akhirat. Bacalah dan ambillah hikmahnya.."

Gola Gong, Pengarang, Pengelola Rumah Dunia
“Negeri Lima Menara” membuat saya ingin kembali memutar arus waktu. Saya ingin kembali ke masa kanak-kanak dan mengalami masa seperti  Alif, Said, Atang, Dulmajid, Baso dan Raja. Masa dimana merajut cita-cita, membentangkan permadani mimpi seluas samudra sangat lah indah. Novel ini – lagi-lagi – semakin meyakinkan saya, bahwa dengan bermimpi kita memiliki masa depan. Buku ini bagus sekali untuk dibaca oleh keluarga muda, yang sedang merenda hari depan. Membaca buku ini,  semakin memastikan bahwa hidup ini indah dan memiliki cita-cita setinggi langit adalah sesuatu yang memungkinkan.  Seperti yang ditulis pengarang buku ini, “Modal kami hanya berani bermimpi, lalu berusaha, bekerja keras dan menggenapkan dengan doa. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil…” Jadi, bacalah buku ini! Dan kita akan mendapatkan spirit itu.

 Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute dan Mantan Ketua Muhammadiyah
“Novel yang berkisah tentang perjalanan rantau anak muda Minang pastilah mengasyikkan untuk diikuti, apalagi jika rantau itu telah menggapai ujung dunia. Filosofi “alam terkembang jadi guru” telah dibuktikan oleh penulis novel yang berasal dari kitaran Danau Maninjau yang elok itu.

 Arief Rachman, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta
“Negeri Lima Menara” adalah tulisan yang sangat inspiratif dan saya anjurkan untuk dibaca oleh masyarakat pendidikan. Dari “Negeri Lima Menara” ini kita merasakan kekuatan pandangan hidup yang mendasari bangkitnya semangat untuk mencapai harga diri, prestasi dan martabat diri. Keterikatan, peleburan dan pencerahan diri dari kekuatan Allah SWT telah mendasari semua kegiatan menjadi ibadah dan keberkahan. Dari kekuatan inilah penulis novel ini memberikan perenungan bagi pembaca untuk tidak putus asa dalam hidup dan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat bangsa dan agama.

Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
"Sebuah novel yg merekam pengembaraan anak kampung di pinggiran danau Maninjau menjejakkan kaki dan tinggal di Washington DC, pusat superpower dunia. Sebuah mozaik kehidupan mimpi seorang santri kampung yang mengepakkan sayapnya memasuki dunia baru berkat pendidikan dan nyalinya yang kuat. Wajib dibaca oleh penutur agama khususnya"



Farhan, Penyiar dan Pembawa Acara
Membaca mantera sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Seperti steroid untuk badan yang sudah remuk oleh usia, amphetamine untuk pikiran yang keruh oleh masalah dan antibiotik yang mengusir parasit-parasit yang melemahkan ! Aku terhenyak, terbangun dari peraduan, tempat membenamkan diri berpaling dari masalah, dengan alasan fatigue ! Bukan dengan amarah dendam tapi dengan semangat inspirasi untuk bangkit dan arif memandang tantangan.

Ary Ginanjar Agustian – Penulis Buku Best Seller ESQ
“Kisah dalam buku ini menggelorakan semangat untuk mewujudkan impian sekaligus memberi keyakinan bahwa kesungguhan akan membuahkan keberhasilan. Bacaan yang tanpa disadari mengasah kecerdasan emosi dan spiritual.”

Udjo, Project Pop
Membaca buku ini pikiranku melayang langsung masuk ke sebuah 'dongeng' perjalanan tentang persahabatan, hidup dan mimpi.....Tidak sadar ternyata dongeng itu berdasarkan kisah nyata dari sang penulis. Ingin rasanya menjadi bagian dari kisah yang menakjubkan ini. Jadi sahabat yang ke tujuh, mungkin gak yaa?:) Tampaknya kini giliran aku punya mimpi dan meyakini bahwa mimpi itu bisa terjadi....Sungguh inspiratif!

Sarlito Wirawan Sarwono, psikolog
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua atas izin Allah dan usaha manusia. Buku ini buktinya. Sangat menggugah inspirasi. Ditulis dalam bahasa yang enak dibaca. Terkadang serius, lebih sering kocak. Kesimpulannya “man jadda wa jada”, artinya “yang penting usaha”. Maka Allah akan membukakan jendela-jendela dunia.

Wicaksono, wartawan Majalah Tempo, blogger
Membaca novel ini bagaikan menikmati laporan jurnalistik seorang wartawan kawakan. Begitu detail dan penuh deskripsi. Kita seperti dibawa bertamasya secara spiritual, dari Bukittinggi yang permai hingga Washington yang bersalju. Dari Pondok Madani yang ajaib hingga Trafalgar Square yang menegakkan bulu roma. Sangat inspiratif.

Helvy Tiana Rosa, Sastrawan dan Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ
Novel ini antara lain bertutur tentang hubungan yang menyentuh antara anak dan ibu serta murid dan guru. Akhirnya kita yakin haqqul yakin, bahwa kombinasi patuh kepada ibu, hormat kepada guru dan usaha pantang menyerah adalah rumus sukses yang tak terlawankan. Berbahagialah para ibu yang telah membawa beragam keajaiban dan kemungkinan buat anaknya. Layak dibaca para ibu yang bermimpi membesarkan anak-anak terbaik.

 Herry Nurdi, Pemimpin Redaksi Majalah Sabili
Perjalanan selalu memberikan imbalan pelajaran. Tentang banyak hal. Tentang ruang, tentang waktu, juga tentang orang dan nilai fundamental. Novel ini menyarikan sekaligus menyajikan beragam perjalanan dengan tokoh-tokohnya yang mengisahkan pelajaran untuk para pembacanya. Selamat membaca dan menemukan banyak hal di Negeri Lima Menara

 Sitta Karina, penulis novel dan kontributor majalah CosmoGIRL!
"Penelusuran jejak-jejak persahabatan dan pencapaian cita-cita diramu dalam kisah yang sekaligus melibatkan petualangan, religi, dan wawasan yang mengesankan.

Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Barat
Membaca buku ini, seperti bangkitnya sastrawan besar masa lalu dari Ranah Minang. Tapi kali ini nuansanya semakin luas dan mengglobal tak sebatas nusantara, apalagi terbatas pada tradisi kultural Minangkabau. Ada hal yang baru dan menarik bagi saya sebagai Gubernur, bahwa betapapun luasnya pergaulan dan modernnya peradaban yang dimasuki kehidupan anak manusia, dia tak dapat melepaskan diri sama sekali dari akar kultural yang dimilikinya. Ini sebuah kehidupan dan model baru karya sastra “anak” Minang masa kini yang berbeda dengan masa lalu, ketika Rantau masih terbatas wilayahnya. Semoga tulisan ini menjadi bahan kajian sastra modern di tanah air kita.