Ambon Mencekam, Warga Berlindung ke Masjid

Ambon Mencekam, Warga Berlindung ke Masjid – Kota Ambon kembali tegang, bentrokan antarwarga tidak bisa dihindarkan. Para warga yang panik tampak mengisi sejumlah masjid. Misalnya saja Masjid Raya Al Fatah, Ambon, dan Masjid Jami Kota Ambon.

Para pengungsi tersebut mengungsi untuk mencari perlindungan. Mereka membawa sanak famili mencari tempat yang aman.

Kabarnya bentrokan warga terjadi akibat tewasnya seorang tukang ojek yang bernama Darmin. Kerusuhan antarwarga terjadi di sejumlah titik di pusat Kota Ambon, Minggu (11/9/2011). Bentrokan awalnya hanya terjadi di kawasan Mangga Dua, usai pemakaman seorang tukang ojek.


Entah siapa yang memulai, massa kemudian marah dan terlibat bentrokan dengan warga lainnya di kawasan tersebut. Warga saling serang dan lempar batu. Suara serangkaian tembakan di Kota Ambon membuat situasi semakin mencekam.

Suara tembakan ini dimulai sekitar pukul 14.00 WIT. Sejak itu situasi menjadi menegangkan. Warga tampak kocar-kacir menyelamatkan diri. Hal ini terlihat di Jl Sultan Baabullah, Jl AM Sangaji dan Jl Talake.

Sebagian warga ada yang berkerumun di tepi jalan. Mereka sudah siap membawa parang. Sementara polisi hanya tampak 1-2 berjaga di jalanan, sebagian tampak membawa senpi. Hingga pukul 15.00 WIT, situasi masih mencekam.

Hingga kini, sejumlah kawasan diblokir warga, sehingga kosentrasi massa hanya terjadi di sejumlah kawasan di Kota Ambon di antaranya kawasan Mardika, Talake, dan Tantui, Ambon.

Semoga Kerusuhan Ambon 1999 Tidak Terulang Kembali

Kejadian ini mengingatkan kita kembali akan peristiwa kerusuhan Ambon 1999. Peristiwa kerusuhan tersebut diawali dengan terjadinya perkelahian antara salah seorang pemuda.

Semula menurut pemahaman kalangan masyarakat awam kejadian tersebut sebagai sebuah tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh suatu tindak/peristiwa kriminal biasa, ternyata berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan adalah merupakan sebuah rekayasa yang direncanakan oleh orang atau kelompok tertentu demi kepentingannya dengan mempergunakan isu SARA dan beberapa faktor internal didaerah (seperti kesenjangan ekonomi, diskriminasi dibidang pemerintahan dll) untuk melanggengkan skenario yang ditetapkan.