Pilpres 2014 Yusril Luncurkan TV Online

Pilpres 2014 Yusril Luncurkan TV Online - Untuk meningkatkan elektabilitasnya di Pilpres 2014 nanti (Baca: 9 Kandidat Muda Calon Presiden 2014 yang Potensial), ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra kemarin resmi meluncurkan sebuah TV Online yang di beri nama yusril.tv.

Cara ini dipilih karena lebih efektif dan efisien. Yusril mengaku pihaknya memang tidak memiliki kemampuan finasial yang besar seperti calon presiden lainnya. Namun ia yakin dengan cara ini tingkat pemilihan dirinya di pemilihan presiden 2014 nanti bisa meningkat dengan cepat.

"Saya ini sebenarnya tidak berbuat apa-apa dalam hal mengampanyekan diri. Tidak pernah saya pasang iklan. Saya tidak punya kemampuan finansial untuk biayai kegiatan itu," ujarnya.

"Saya yakin (eletablitas meningkat). Karena waktu ini masih panjang juga kan," tambah Yusril.

Pilpres 2014 Yusril Luncurkan TV Online

Masalah ‘Bantuan’nya Terhadap Kasus Korupsi

Yusril selama ini dikenal juga sebagai pengacara, beberapa perkara pernah ia tangani termasuk kasus korupsi. Mengenai hal tersebut, Yusril yakin masalah itu tidak akan menurunkan elektabilitasnya di Pemilu 2014 nanti.

"Bagi saya sebenarnya tidak. Karena banyak orang melihat persoalan itu adalah persoalan politik," ujar Yusril.

Menurut mantan Menteri Kehakiman ini, banyak hal yang perlu diluruskan di tengah masyarakat. Misalnya, tidak semua orang yang didakwa ke pengadilan adalah orang bersalah. Apalagi dengan kondisi aparat penegak hukum di negara ini yang tidak benar-benar menegakkan hukum.

"Orang didakwa ke pengadilan itu harus dengan konsep praduga tak bersalah. Dibuktikan saja di pengadilan. Kalau dia tidak terbukti salah dibebaskaan. Kalau terbukti dihukum," jelasnya.

Yusril mengungkapkan, perkara-perkara yang ada juga tidak sembarang ditangani. Dia memiliki berbagai pertimbangan untuk terlibat di dalam penanganan perkara-perkara tersebut.

"Misalnya saya yakin betul seorang terdakwa tidak bersalah. Dan sebenarnya tidak banyak saya tangani kasus korupsi. Di tempat saya misalnya, ada 100 perkara yang kita tangani dalam 3 bulan. Mungkin yang terkait dengan korupsi itu 2 hingga 3 kasus. Satu-satunya yang masih ditangani itu cuma Siti Fadilah saja," terangnya.


"Tapi kadang kalau saya pelajari kasusnya, misalnya terdakwa itu tidak jujur, maka saya mundur. Seperti kasusnya Zulkarnaen Djabar," imbuhnya.