Alasan Menolak Miss World Selain Karena Agama



Alasan Menolak Miss World Selain Karena Agama - Aksi penolakan Miss World terus berdatangan dan menghangat. Seperti kita tahu Miss World tahun ini di selenggarakan di Indonesia, dengan memilih 2 tempat yaitu Bali sebagai tempat karantina dan daerah Sentul tepatnya di SICC (Sentul International Convention Center) sebagai tempat puncak acara Miss World

Walaupun pihak panitia sudah berupaya keras menjelaskan kalau  penyelenggaraan Miss World di Indonesia berbeda dengan negara negara lain, seperti ditiadakannya momen bikini, namun banyak kalangan masyarakat terutama dari segmen agama tetap menolak acara yang tahun ini merupakan yang ke-63 kalinya.

Sebenarnya penolakan Miss World tidak hanya datang dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri, salah satunya adalah Michelle Toglia seorang penulis yang berasal dari negeri Paman Sam.

Melalui tulisannya di situs yourtango.com, ia mengkritik habis habis penyelenggaraan kontes Miss World. "Ini lomba paling memilukan. Setiap perempuan diberlakukan kecantikan standar padahal sejak dulu setiap orang berbeda," ujarnya.

Tahun lalu dia menuliskan sekitar 5,5 juta orang sejagat menonton acara Miss World dengan peserta yang lenggak lenggok, kulit eksotik buatan, gaun malam mewah, dan tiara berlian. Modernisasi berlebihan sementara ribuan orang sedunia kelaparan. "Atau anak-anak Jalur Gaza tidak bisa tidur sebab memikirkan apakah mereka besok masih hidup atau tidak?" kata Toglia sengit.

Semua kontestan dilatih, lalu diuji dan ditentukan pemenang oleh juri. Acara diklaim sangat masa kini itu dari tahun ke tahun selalu nyaris mirip. Mereka dinilai cara berbicara, cara berjalan, cara berbusana, lalu apa yang modern dengan itu?

Bahkan acara ini juga melibatkan pemirsa televisi menilai kontestan. Hasilnya? Rata-rata pemenang seksi tapi berwajah lugu. "Jadi? Otak terletak dimana?", tulisan Toglia lagi.

Hal yang juga mengganggu perempuan ini yakni setiap peserta harus belum menikah, belum punya anak, belum pernah hamil, tidak sedang melahirkan, tidak berencana menikah dalam waktu dekat, bukan juga perempuan rahimnya dititipkan. Mereka taat pada itu menandakan tidak punya perasaan.