Ini Catatan Letusan Gunung Kelud

Ini Catatan Letusan Gunung Kelud - Gunug Kelud kembali meletus semalam (Baca: Inilah Kronologi dan Video Gubung Kelud Meletus 13 Februari 2014), semburan lahar yang disertai debu panas memaksa sejumlah warga untuk mengungsi sejauh 20 kilometer dari puncak gunung.

Beberapa bandara pun ditutup akibat letusan Kelud tersebut (Baca: Nih Dia Hak Penumpang Jika Pesawat Delay). Ada empat bandara yang ditutup yaitu Bandara Juanda Surabaya, Abdur Rahman Saleh Malang, Adi Sumarmo dan Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Gunung yang dalam bahasa Jawa berarti ‘sapu’ ini telah beberapa kali meletus. Tercatat pada tahun 1300 an masehi, Kelud meletus dengan rantang waktu yang relatif pendek yaitu antara 9 sampai 25 tahun sekali.

Sementara catatan letusan yang dibuat di abad ke-20 antara lain tahun 1901, 1919, 1951, 1966, 1990, 2007, serta malam ini. Pola ini, disebut para ahli gunung api sebagai siklus 15 tahunan meletusnya gunung ini.




Letusan ini terbilang yang paling mematikan karena menelan korban 5.160 jiwa, merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km, meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan lahar pada tahun 1905.

Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan. Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera.



Letusan tahun 1990 merupakan amukan terlama Kelud. Sejak 10 Februari hingga 13 Maret di tahun itu, gunung api ini telah memuntahkan 57,3 juta meter kubik lahar panas. Akibat letusan di tahun 1990 tersebut, material vulkanik yang terbawa air hujan mampu menutup terowongan Ampera yang dibangun tahun 1966 sebagai saluran aliran lahar dingin. Proses normalisasi tumpukan sisa bencana, baru selesai empat tahun kemudian.



Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.

Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.

Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.

Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3). Danau kawah Gunung Kelud praktis "hilang" karena kemunculan kubah lava yang besar. Yang tersisa hanyalah kolam kecil berisi air keruh berwarna kecoklatan di sisi selatan kubah lava.



Erupsi pertama untuk letusan tahun ini, terjadi pada Kamis (13/2) pukul 22.50 WIB dengan suara ledakan dilaporkan terdengar sampai kota Yogyakarta (200 km), bahkan Purbalingga (lebih kurang 300 km), Jawa Tengah.

Gunung Kelud dinaikkan statusnya menjadi Siaga pada 10 Februari 2014 dan kemudian Awas pada 13 Februari 2014 pukul 21.15 WIB. Dampak berupa abu vulkanik pun pada 14 Februari 2014 dini hari dilaporkan warga telah mencapai Kab. Ponorogo.


Gunug Kelud Meletus Saat Wage

"Neptu/neton Wage" atau hari pasaran keempat dalam hitungan Jawa itu seolah mengokohkan "hari keramat" Kelud, karena rupanya gunung yang memuntahkan lava pijar terjadi pada Kamis (13/2) malam atau malam Jumat Wage.

Kebiasaan Gunung Kelud yang dalam beberapa kali meletus pada hari pasaran Wage itu bahkan sempat menjadi bahan bahasan jemaah yasinan di Kompleks Perumahan Pondok Delta Jengglong, Kelurahan Kaweron, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Kamis (13/2) malam.


"Gunung Kelud telah beberapa kali meletus bertepatan dengan neptu atau hari pasaran Wage. Karena itu, malam ini perlu waspada mengantisipasi aktivitas Gunung Kelud, karena sekarang malam Jumat Wage," ujar warga perumahan itu, Jamil.