Begini Jawabnya Kalau Ditanya “Pilih Pemimpin Non Muslim tapi Jujur atau Muslim tapi Zalim”

Begini Jawabnya Kalau Ditanya “Pilih Pemimpin Non Muslim tapi Jujur atau Muslim tapi Zalim” – Menjelang Pilkada DKI Jakarta, banyak umat Islam yang galau akibat diserbu pertanyaan “Pilih mana pemimpin non Islam tapi jujur atau muslim tapi zalim”. Ini tidak lepas dari ikut sertanya Ahok, Gubernur DKI Jakarta yang sekarang pada Pilkada DKI Jakarta tahun depan.

Di Al-Quran sebenarnya sudah dijelaskan secara gamblang bagaimana umat Islam harus bersikap dalam memilih seorang pemimpin, yaitu diantaranya

QS. 3. Aali 'Imraan : 28.

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu)."

 QS. 4. An-Nisaa' : 144.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?"

 QS. 5. Al-Maa-idah : 57.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman."

Lalu bagaimana menanggapi pertanyaan diatas ? Percapakan dua orang ini mungkin bisa membantu.


Begini Jawabnya Kalau Ditanya “Pilih Pemimpin Non Muslim tapi Jujur atau Muslim tapi Zalim”


Begini Jawabnya Kalau Ditanya “Pilih Pemimpin Non Muslim tapi Jujur atau Muslim tapi Zalim”


“BANG, mau nanya!”

“Soal apa?”

“Soal itu, pemimpin muslim dan non muslim.”

“Wah, saya sudah ketebak arahnya ke mana nih.”

“Hehehe, jadi menurut Abang bagaimana? Lebih baik mana? Pemimpin non muslim tapi jujur, atau pemimpin muslim tapi zalim?”

“Pemimpin muslim tapi jujur.”

“Ya iyalah! Tapi kalau pilihannya cuma dua itu, bagaimana?”

“Sebenarnya pertanyaan kamu yang salah.”

“Memangnya yang benar bagaimana?”

“Yang benar, yang begini itu jangan ditanya. Saya bingung jawabnya.”

“Sudah terlanjur nanya, Bang. Jawab saja.”

“Kalau saya tanya kamu. Kamu pilih mana? Minum kopi sianida, atau racun serangga?”

“Wah! Sama-sama mati, dong.”

“Nah, kira-kira begitu.”

“Jadi Bang?”

“Begini, orang yang baik tapi bukan muslim, tetap tidak baik jika dia jadi pemimpin sebagian besar muslim. Sekali pun dia memang orang yang baik. Sedangkan pe …”

“Di sini yang aku tidak mengerti, Bang! Setelah banyak terdengar, ‘mendingan kafir jujur daripada muslim tapi zalim’. Seolah-olah hukum Allah itu salah. Nah, kita yang berpedoman dengan Al-Qur’an seolah-olah memang dibiarkan berada di bawah pemimpin zalim. Dipimpin oleh pemimpin zalim itu lebih baik daripada dipimpin oleh pemimpin non muslim walau dia baik. Kan begitu jadinya? Padahal Allah itu Maha Baik, kan?”

“Begini, saya tadi sebenarnya belum selesai ngomong. Untuk pemimpin yang baik tapi non muslim, perumpamaannya misalkan ada lahan yang harus ditanami padi, yang nanti hasilnya untuk makan orang banyak. Karena dia orang yang baik maka dia amanah, memenuhi kewajibannya. Dia menanam memang untuk kesejahteraan rakyatnya. Namun karena dia tidak mengetahui cara menanam padi, yang seharusnya padi itu ditanam dengan cara mundur, tapi dia menanamnya dengan cara maju, sehingga padi yang ditaman lalu terinjak olehnya. Maka jelaslah takkan tumbuh yang namanya padi. Yang ada cuma rumput liar. Alhasil, rakyat kelaparan. Pokoknya, apapun yang dilarang oleh Allah, itu berarti berakibat buruk jika kita melakukannya. Kira-kira seperti perumpamaan barusan.”

“Kalau pemimpin muslim tapi zalim?”

“Ya sebaliknya. Dia tahu aturan menanam padi, yaitu mundur. Tapi dia memilih menanam dengan caranya sendiri, padahal aturan yang dia tahu, itu yang paling baik. Alhasil, ya sama saja, rakyat tetap kelaparan.”

“Jadi, yang lebih baik?”

“Ya yang tadi, muslim tapi jujur.”

“Seriuslah, Bang.”

“Memangnya saya kelihatan main-main?”

“Ya tidak. Jadi, bagaimana?”

“Menurut kamu, jika kita yang sebagian besar muslim ini ditakdirkan oleh Allah untuk dipimpin oleh pemimpin non muslim, kira-kira kenapa?”

“Wah, tidak tahu, Bang?”

“Karena mungkin, jangan-jangan kita ini memang pantas mendapatkannya.”

“Wiiiih … iya kah?”

“Menurut kamu, jika kita sebagian besar muslim ini ditakdirkan oleh Allah untuk dipimpin oleh pemimpin muslim tapi zalim, kira-kira kenapa?’

“Jangan-jangan karena kita pantas mendapatkannya?”

“Betul! Jangan-jangan kita ini memang pantas.”
Laporkan iklan?

“Saya tidak puas dengan jawaban ini, Bang.”

“Oke, anggap saja begini … eemmm saya, kamu dan sebagian orang telah menetapkan–harga mati harus memilih pemimpin muslim. Kita ajak keluarga, teman dan orang-orang. Namun yang terjadi tetap non muslim yang jadi pemimpin. Tentu ini atas izin Allah, kan? Allah itu Maha Bisa. Jangankan satu kota, jika Dia menghendaki seluruh rakyat Indonesia memilih pemimpin muslim, maka itu pasti terjadi. Bahkan dunia. Pertanyaannya, kenapa Allah izinkan non muslim menjadi pemimpin? Kalau pun muslim, kenapa dia zalim?”

“Iya, ya. Jangan-jangan itu tadi, Bang. Jangan-jangan kita memang pantas mendapatkannya.”

“Mungkin.”

“Solusinya?”

“Dulu, sebelum wafat Rosulullah Sholallahu alaihi wassalam pernah berpesan, beliau bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dosa-dosa itu dapat mengubah nikmat-nikmat dan mengganti bagian yang mestinya didapatkan. Maka ketika manusia dalam keadaan baik, maka pemimpin mereka akan berbuat baik kepada mereka. Jika manusia dalam keadaan jelek, maka pemimpin mereka akan menghancurkan mereka. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman, “Dan demikian Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’aam : 129)”‘. [1]

“Bukankah di Indonesia masih banyak orang baik?”

“Mungkin. Tapi bisa jadi lebih banyak yang tidak baik. Malah kemungkinan besar kita termasuk di dalamnya. Coba kita ingat-ingat! Terhadap Allah kita ini bagaimana? Terhadap orang tua kita ini bagaimana? Terhadap guru kita ini bagaimana? Terhadap saudara kita ini bagaimana? Terhadap sesama kita ini bagaimana? Dan lain sebagainya. Ingat! Fir’aun menjadi raja pada masanya dikarenakan kaumnya tidak beriman kepada Allah, mereka tidak bertakwa, mereka zalim. Allah uji kaum itu dengan Fir’aun dan Fir’aun sendiri diuji dengan kekuasaannya.”

“Iya, Bang. Sholat suka nunda bahkan kadang lupa, sama orang tua sekadarnya, sama guru lupa, sama saudara musuhan, terhadap sesama tidak peduli, dosa besar dianggap enteng dosa kecil dianggap tidak ada, amal dianggap tidak berharga. Banyak kurangnya, Bang.”

“Iya, mungkin karena itu kita diberi pemimpin non muslim. Kalau pun muslim dia zalim.”

“Jadi, solusinya?”

“Perbaiki islam kita.”

“Kalau itu iya, Bang. Maksud aku jika harus memilih, pilih yang mana?”

“Kok masih nanya? Kamu tadi memperhatikan tidak? Coba ingat-ingat obrolan kita ini.”

“Oh, iya iya. Maaf, Bang. Iya, saya paham.”

“Kalau nanti terpilih pemimpin muslim namun dia zalim, sedangkan semua rakyatnya berubah jadi sholeh. Ya keroyokan saja berdo’a, minta dia diberikan hidayah oleh Allah. Do’a orang sholeh itu cepat sampainya. Apalagi do’a orang sholeh yang teraniaya. Ada saja cara Allah. Entah pemimpin itu dapat hidayah atau lengser dan diganti pemimpin yang amanah, kita tidak tahu?”

“Iya juga, ya. Tapi kalau terpilih pemimpin non muslim?”

“Ya tetap berdo’a berjamaah, semua berubah jadi sholeh. Minta sama Allah agar pemimpin itu diberi hidayah, memeluk islam dengan hatinya. Jangan sampai kita teriak-teriak anti pemimpin kafir tapi giliran masuk waktu sholat kebanyakan mikir, sholat dulu apa kerjaan dulu? Inilah yang namanya berislam setengah-setangah. Tapi pengennya pemimpin islam yang kaffah Usahakan saja sekuat tenaga kalau kita ini tidak pantas dipimpin oleh pemimpin non muslim atau pemimpin muslim yang zalim.”